
Ketua Komunitas Masyarakat Adat Kuta Gusti Ketut Sudira mengakui praktik gigolo di Bali sudah ada sejak 20 tahun lalu. Namun mencari sosok pria penjaja seks ini susah-susah gampang, nyata tapi tidak kelihatan.
Kehidupan gigolo di Bali diungkapkan Jony Combor (32) — bukan nama sebenarnya — kepada VIVAnews, Selasa 27 April 2010. Jony sendiri bukan gigolo, tapi bertahun silam ia pernah mengenal dunia hiburan Bali.
Pria asal Boyolali Jawa Tengah yang sudah 13 tahun hidup di Bali merupakan mahasiswa di sebuah Universitas di Denpasar dan pekerja di bagian order sablon.
Jony mengaku mengenal banyak teman yang berprofesi sebagai “gigolo pantai”. Menurut cerita Jony, di Bali memang sudah ada moto pariwisata dari pemerintah, yakni 3-S (Sun, Sand and Sea) yang artinya Bali menyuguhkan keindahan matahari, pasirnya yang putih dan lautnya yang indah.
Namun oleh para anak pantai ini istilah itu kemudian diplesetkan menjadi 4-S , Sun, Sand, Sea and Sex. Jika tanpa bagian keempat ini, liburan di Bali belumlah lengkap.
“Aku kenal gigolo segala macam. Di tempat pariwisata pasti ada wisata seks-nya, seperti Thailand dan segala macam, tapi menjadi problem di Bali karena mungkin terbentur adat dan budaya,” ujarnya.
Meski begitu praktik ini tetap berjalan. Wisatawan mancanegara yang datang ke Bali pada kenyataannya tidak sekadar mencari hiburan lewat keindahan pantai. Sebab ujung-ujungnya tetap mencari kepuasan, yakni seks.
“Seks menjadi tujuan akhir mereka, memang tidak semua orang suka seks bebas, tapi yang namanya gigolo itu memang benar ada,” katanya. (hs)
Sumber : Metroholic.com

0 comments:
Post a Comment