
Siapa Soekarno? Mungkin cara ini bisa membantu menjawab berbagai
misteri dan bisa menjelaskan sosok utuh Bung Karno. Selama ini kita
hanya mengenal sebagai tokoh legendaris, proklamator, Presiden RI
pertama, Pemimpin Besar Revolusi, founding fathers, penyambung lidah
rakyat, seorang nasionalis, marhaenis dan berbagai sebutan lainnya.
Namun berapa banyak orang yang tahu kalau Soekarno adalah seorang
cendekiawan, dengan ratusan karya tulis. Kumpulan tulisan yang sangat
terkenal sudah diterbitkan dengan judul Di bawah Bendera Revolusi yang
terdiri dari dua jilid. Dari buku inilah, tulisan pemikiran besar
muncul dengan judul "Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme". Oleh
Soekarno, tiga aliran besar ini hendak disatukan dalam rumah besar
bernama Indonesia. Jelas cita-cita agung namun menjadi mission
impossible dalam dataran praktis.
Soekarno juga gandrung terhadap pemikiran sosialisme. Bentuk nyata
diterapkan dalam konsep marhaenisme, sebuah nama yang diambil dari nama
petani miskin di Jawa Barat bernama Marhaen. Nama ini diperkenalkan
sejak masih muda, menjadi simbol keberpihakan terhadap nasib "wong
cilik" dan menjadi asas Partai Nasionalis Indonesia (PNI), partai yang
ia dirikan pada tahun 1927.
Lalu bagaimana sewaktu Soekarno memerintah? Bersama Hatta sebagai Wakil
Presiden, Sukarno menghadapi masa-masa awal kemerdekaan yang sulit.
Namun, keduanya sukses menangkis berbagai hambatan serius dari dalam
dan luar negeri. Keduanya bisa berbuat banyak jika bekerja sama. Hatta
memerlukan kemampuan Sukarno untuk berkomunikasi dengan massa orang
Jawa. Sukarno mengambil keuntungan dari disiplin, integritas, dan
keterampilan Hatta di bidang ekonomi. Sayangnya, kerja sama apik ini
tak berlangsung lama. Karena perbedaan pendapat yang cukup tajam, Hatta
memilih menyingkir dalam pergulatan elite waktu itu.
Sepanjang pemerintahan Soekarno inilah banyak eksperimen dilakukan.
Dari pemerintahan demokrasi parlementer yang banyak diwarnai kericuhan,
sistem multipartai sampai model Demokrasi Terpimpin. Saat menerapkan
demokrasi terpimpin, Soekarno dengan leluasa menyusun kabinet, menunjuk
perdana menteri dan mengangkat semua anggota parlemen.
Percaturan politik akhir tahun 50-an, menempatkan partai-partai Islam
tersingkir. Pada awal tahun 60-an peta pertarungan politik berubah
antara PKI dan tentara. Dan Sukarno mencoba berdiri di tengah menjaga
keseimbangan yang rawan. Di bawah bayang-bayang ketegangan Perang
Dingin global dan tekanan krisis ekonomi domestik, Sukarno terbakar di
tengah-tengah persaingan dua kubu, dalam sebuah drama paling berdarah
1965. Andaikata Soekarno bersedia langsung membubarkan PKI dan tidak
melalui Supersemar, bisa jadi karier politiknya tidak jatuh secara
tragis.
Di era Soeharto, orde baru berusaha membenamkan sosok Bung Karno.
Namun, kenangan terhadap Sukarno tidak pernah benar-benar terkubur.
Sukarno tak pernah berhenti menjadi ikon revolusi nasional Indonesia
yang paling menonjol. Di banyak rumah, foto-fotonya, kendati dalam
kertas yang sudah menguning di balik kaca pigura yang buram, tidak
pernah diturunkan dari dinding meski pemerintahan berganti-ganti.

0 comments:
Post a Comment